Wednesday, October 10, 2018

Candi Kedulan: Yogyakarta


Description: kedulan_utama1.jpg
Candi Kedulan yang terletak di Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 2,5 km dari Candi Sambisari.Candi ini sedang dalam proses penggalian dan rekonstruksi, karena pada saat ditemukan, reruntuhan candi dalam keadaan tertimbun tanah yang berasal dari lahar G. Merapi.

Bangunan induk Candi Kedulan ditemukan pada tanggal 24 November 1993 secara tidak sengaja oleh penambang pasir yang sedang menambang pasir di lahan gersang yang merupakan "tanah bengkok" desa Tirtomartani. Yang disebut "tanah bengkok" adalah tanah milik desa yang diperbolehkan untuk didayagunakan dan diambil hasilnya oleh kepala desa selama masa jabatannya. Penambangan pasir kemudian dihentikan, dilanjutkan penggalian arkeologi yang dilakukan oleh BP3 secara bertahap. Saat penggalian lanjutan, kondisi candi sudah roboh, batu-batunya terserak karena diterjang lahar Merapi dan terkubur pada kedalaman enam meter di bawah permukaan tanah. Setelah petugas arkeolog menggali sedalam tujuh meter di lahan seluas 4,000 meter persegi, terpampanglah candi induk Kedulan. Candi berdenah bujur sangkar ini memiliki panjang 13.7 meter dan tinggi 8.009 meter.

Description: kedulan_utama4_2.jpgDescription: kedulan_2a.jpg
Para ahli memperkirakan bahwa di kompleks Candi Kedulan terdapat sebuah candi utama yang menghadap ke timur, berhadapan dengan tiga buah candi perwara yang berjajar dari utara ke selatan. Kompleks candi dikelilingi pagar pembatas, terlihat dari adanya dinding sepanjang dua meter dari timur ke barat. Perkiraan tersebut didasarkan pada kemiripan Candi Kedulan dengan Candi Sambisari yang telah selesai dipugar pada tahun 1985. Baik Candi sambisari maupun Candi Kedulan merupakan candi Hindu. Bentuk dan ukuran candi utamanya juga tidak jauh berbeda. Di tengah bangunan utama terdapat lingga dan yoni. Perbedaan di antara keduanya hanyalah bahwa Candi Sambisari menghadap ke barat, sementara candi Kedulan menghadap ke timur. Pagar luar seperti yang ditemukan di Candi Kedulan terdapat juga di Candi Sambisari. Di Candi Kedulan ditemukan juga arca Durga Mahesasuramahardini di utara, arca Ganesha di barat, arca Agastya dan Mahakala di selatan, serta Nandiswara di kanan-kiri pintu masuk candi.
Description: kedulan_perwara_utara1_pyo_3.jpg
Saat ini, yang sudah terbuka baru candi perwara yang berada di ujung selatan. Candi perwara ini berada empat meter di bawah permukaan tanah. Lokasi candi perwara ini berada persis di bawah jalan kampung. 

Sementara candi perwara tengah sedang dalam proses penggalian dan sudah menampakkan beberapa batu candi, sedangkan candi perwara di sisi utara sama sekali belum digali.

Pada masa penggalian, di dekat arca Agastya, ditemukan dua buah prasasti yang masing-masing panjangnya 75 cm, lebar 45 cm dan tebal sekitar 23 cm. Kedua prasasti ini ditulis dengan huruf Palawa dan berbahasa Sansekerta.

Description: kedulan_perwara_tengah2_4.jpgDescription: kedulan_perwara_tengah1_4b.jpg
Menilik beratnya, kemungkinan besar sejak semula kedua prasasti yang dikenal dengan Prasasti Pananggaran dan Prasasti Sumundul tersebut memang terletak di tempat itu. Keduanya berangka tahun bertahun 791 Saka atau 869 Masehi. Menilik tahun pembuatan prasasti, diduga Candi Kedulan dibangun ketika Rakai Kayuwangi memerintah Kerajaan Mataram Hindu.

Kedua prasasti tersebut memuat ketetapan bahwa penggunaan bendungan di desa Pananggaran untuk kepentingan masyarakat dan bahwa pendapatan yang dihasilkan dari bendungan itu dibebaskan dari pajak oleh negara karena digunakan untuk mendanai Candi Kedulan.

reportase & Fotographer: Priyo Sularso




Candi Kalasan atau Candi Tara : Yogyakarta


Description: sejarah candi kalasan
Candi Kalasan atau Candi Tara adalah bangunan yang dipersembahkan untuk Dewi Tara yang merupakan candi Budha tertua di Yogyakarta. Candi ini dibangun semasa raja Rakai Panangkaran dari dinasti Syailendra yang juga sebagai perencana pendirian candi Borobudur. Karena candi ini letaknya di wilayah Kalasan, maka candi ini dikenal dengan nama Candi Kalasan.

Bangunan pada bentuk dasar Candi Tara ini adalah bujur sangakar yang berukuran setiap sisinya 45 meter dengan ketinggian bangunan sekitar 34 meter. Candi Kalasan secara vertikal terbagi menjadi 3 bagian, yaitu kaki candi, tubuh candi dan atap candi.
Pada bagian kaki candi merupakan sebuah batu lebar yang berbentuk bujur sangkar yang ditengahnya terdapat sebuah tangga berhias makara pada sisi ujungnya. Terdapat hiasan suluran-suluran yang keluar dari sebuah pot terpahat pada sekeliling kaki candi ini.
Pada bagian tubuh candi terlihat menjorok keluar sisi tengahnya dan pada bagian permukaan luar tubuh candi ini mempunyai relung-relung yang menghiasi sosok dewa yang sedang memegang bunga teratai dengan posisi berdiri. Selanjutnya bila kita lihat ke arah tenggara akan melihat sebuah bilik yang didalamnya berada singgasana berhiaskan motif singa yang sedanga berdiri di tas punggung gajah. Dari sisi penampil sebelah timur anda dapat memasuki bilik tersebut.
Bagian atap dari Candi Kalasan ini mempunyai bentuk persegi delapan yang terdiri dari dua tingkat. Pada tingkat pertama terdapat sebuah arca yang melukiskan manusia Budha. Sedangkan pada tingkat yang kedua terdapat arca yang menggambarkan Yani Budha. Sementara itu pada bagian puncak darii candi ini melambangkan Kemuncak Semeru yang berbentuk bujur sangkar yang dihiasi oleh beberapa stupa. Terdapat juga hiasan bunga makhluk kayangan yang bertubuh kerdil yang bernama Gana pada perbatasan tubuh candi dengan atap Candi Kalasan.
Kalau anda bisa melihat lebih dekat dengan memperhatikan detail dari candi ini, terdapat relief-relief yang menarik pada permukaan candi ini. Misalnya pahatan relief dari sebuah pohon dewata dan awan beserta penghuni khayangan yang sedang memainkan sebuah alat bunyi-bunyian. Para penghuni ini membawa rebab, kerang dan camara. Terdapat juga relief dedaunan, sulur-suluran dan kuncup bunga. Candi Kalasan mempunyai keunikan tersendiri karena seluruh relief yang ada dilapisi semen kuno yang disebut Brajalepha yang terbuat dari getah dari pohon tertentu pada masa itu.
Terdapat 52 buah stupa setinggi 4,6 m yang mengelilingi tubuh candi tersebut yang tidak semuanya utuh, karena bagiannya ada yang tidak mungkin dirangkai kembali karena sudah rusak. Salah satu bukti kehebatan Rakai Panangkaran pada waktu itu tertulis dalam prasasti candi yang berhuruf Panagari, beliau sampai mampu membangun candi di wilayah negara Thailand.
Candi Kalasan ini cukup membuktikan pada zaman itu sudah ada upaya untuk saling menghormati antara pemeluk umat beragama. Rakai Panangkaran yang merupakan penganut Hindu telah membangun Candi Tara atas usulan dari para pendeta penganut Budha yang seterusnya untuk dipersembahkan lagi kepada Pancapana yang beragama Budha. Candi ini menginspirasi seorang penganut Budha dari India bernama Atisha yang pernah mengunjungi Borobudur dan menyebarkan ke Budha Tibet
Lokasi
Candi Kalasan terletak di Dusun Kalibening, Desa Tirtamartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Akses
·         Jika berangkat dari Yogyakarta melewati jalan Solo, anda akan menemukan sebuah bangunan candi disisi sebelah kanan jalan ( selatan ). Candi ini bernama Candi Kalasan.
·         Kalau anda menggunakan jalur kendaraan umum jurusan Jogja-Prambanan dan selanjutnya turun dekat RS Prambanan kemudian berjalan ke Selatan sekitar 50 meter.


Candi Ijo : Yogyakarta


Description: c_ijo01_pyo_1.jpg
Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini berada lereng barat sebuah bukit yang jauh dari keramaian di kawasan barat Yogyakarta, di selatan Candi Ratu Baka.

Dataran tempat kompleks candi itu berada luasnya sekitar 0,8 hektar, namun diperkirakan bahwa sesungguhnya kompleks Candi Ijo jauh lebih luas dari lahan yang sudah dibebaskan pemerintah tersebut. Dugaan itu didasarkan pada kenyataan bahwa ketika lereng bukit Candi Ijo di sebelah timur dan sebelah utara ditambang oleh penduduk, masih banyak ditemukan artefak yang mempunyai kaitan dengan candi.
Description: c_ijo04_pyo_2.JPG
Candi berlatar belakang agama Hindu ini diperkirakan dibangun antara abad ke-10 sampai dengan ke-11. Kompleks Candi Ijo terdiri dari beberapa kelompok candi induk, candi pengapit dan candi perwara. Candi induk yang sudah selesai dipugar menghadap ke barat. Di hadapannya berjajar tiga candi yang lebih yang lebih kecil ukurannya yang diduga dibangun untuk memuja Brahma, Wisnu dan Syiwa.

Di bagian barat kompleks, menghampar ke arah kaki bukit terdapat reruntuhan sejumlah candi yang masih dalam proses penggalian dan pemugaran. Konon untuk membangun candi ini tidak hanya digunakan batu-batu dari Gunung Merapi yang terdapat di lokasi candi, namun juga batu sejenis yang didatangkan dari berbagai tempat.
Description: c_ijo39_3.JPGDescription: c_ijo37_pyo_3a.JPG
Bangunan candi induk berdiri di atas kaki candi yang berdenah dasar persegi empat. Pintu masuk ke ruang dalam tubuh candi terletak di pertengahan dinding sisi barat, diapit dua buah jendela palsu. Di atas ambang pintu terdapat hiasan kepala Kala bersusun. Sebagaimana yang terdapat di candi-candi lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kedua kepala Kala tersebut tidak dilengkapi dengan rahang bawah. Di atas ambang kedua jendela palsu juga dihiasi dengan pahatan kepala Kala bersusun.
Description: c_ijo04_pyo_4.JPGDescription: c_ijo06_pyo_4a.JPG
Ambang pintu dibingkai dengan tubuh sepasang naga yang menjulur ke bawah dengan kepala membelakangi ambang pintu dan mulut yang menganga lebar. Di dalam mulut masing-masing naga terdapat burung kakatua kecil.

Jendela-jendela palsu ada bagian luar dinding utara, timur dan selatan, yaitu 3 buah pada masing-masing sisi. Ambang jendela juga dibingkai dengan hiasan sepasang naga dan kepala Kala seperti yang terdapat di jendela palsu yang mengapit pintu.

Untuk mencapai pintu yang terletak sekitar 120 cm dari permukaan tanah dibuat tangga yang dilengkapi dengan pipi tangga berbentuk sepasang makara. Kepala makara menjulur ke bawah dengan mulut menganga.
Description: c_ijo07_pyo_5a.JPGDescription: c_ijo09_pyo_5b.JPGDescription: c_ijo10_pyo_5c.JPG
Dalam mulut masing-masing makara juga terdapat seekor burung kakatua yang membawa bulir padi di paruhnya. Bagian atas kepala makara dihiasi pahatan yang tampak seperti rambut, sedangkan bagian atas pipi tangga juga dihiasi pahatan bermotif kala.

Pada bagian luar dinding utara, timur dan selatan terdapat jendela-jendela palsu, masing-masing 3 buah. Ambang jendela juga dibingkai dengan hiasan sepasang naga dan kepala Kala seperti yang terdapat di jendela palsu yang mengapit pintu.
Description: c_ijo17_pyo_6.JPGDescription: c_ijo16_pyo_6b.JPGDescription: c_ijo14_6_c.JPG
Dalam tubuh candi induk ini terdapat sebuah ruangan. Di tengah dinding utara, timur dan selatan masing-masing terdapat sebuah relung yang bentuknya mirip jendela palsu yang terdapat di dinding luar. Setiap relung diapit oleh pahatan pada dinding yang menggambarkan sepasang dewa-dewi yang sedang terbang menuju ke arah relung.

Di tengah ruangan terdapat lingga yang disangga oleh makhluk seperti ular berkepala kura-kura. Makhluk yang berasal dari mitos Hindu ini melambangkan penyangga bumi.Dengan demikian, pusat candi merupakan garis sumbu bumi. Penyatuan lingga dan yoni melambangkan kesatuan yang terpisahkan antara Brahma, Wisnu dan Syiwa. Lingga, yang seharusnya menancap pada yoni sudah tidak ada di tempatnya.
Description: c_ijo21_pyo_7.JPGDescription: c_ijo26_pyo_7b.JPG
Atap candi bertingkat-tingkat, terbentuk dari susunan segi empat yang makin ke atas makin mengecil. Di setiap sisi terdapat deretan 3 stupa di masing-masig tingkat. Sebuah stupa berukuran lebih besar terdapat di puncak atap.

Sepanjang batas antara atap dan dinding tubuh candi dihiasi dengan deretan pahatan dengan pola berselang-seling antara sulur-suluran dan raksasa kerdil.
Description: c_ijo22_pyo_8.jpgDescription: c_ijo28_pyo_8b.JPGDescription: c_ijo35_pyo_8c.JPGDescription: c_ijo33_pyo_8d.JPG
Sepanjang tepi lapisan dihiasi dengan deretan bingkai berpola kala. Dalam masing-masing bingkai terdapat arca setengah badan yang menggambarkan dewa Brahma, Wisnu atau Syiwa dalam berbagai posisi tangan.



Candi Gebang : Yogyakarta


Description: gebang_timur_Fifi.JPG
Candi Gebang terletak di daerah Condongcatur, di sebelah selatan desa Gebang, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, lebih kurang 11 Kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Penemuan candi Hindu ini berawal dari ditemukannya patung Ganesha oleh penduduk setempat pada bulan November 1936. Berdasarkan penemuan itu, para arkeologis mulai melakukan penelitian tentang kemungkinan adanya sebuah candi di lokasi penemuan patung tersebut. Diasumsikan bahwa patung Ganesha tersebut merupakan bagian dari sebuah bangunan bangunan. Setelah dipastikan tentang adanya sebuah candi di lokasi tersebut, selanjutnya dilakukan penggalian, rekonstruksi dan pemugaran, yang dilangsungkan tahun 1937 sampai tahun 1939 di bawah pimpinan Van Romondt.
Tidak didapat informasi mengenai tentang latar belakang historis Candi Gebang. Hanya saja, ditilik dari keberadaan lingga, yoni dan arca Ganesha, dapat dipastikan bahwa Candi Gebang merupakan candi Hindu. Disamping itu, proporsi yang tinggi pada bagian kaki menandakan candi itu dibangun pada masa antara tahun 730-800 M.
Description: candi_gebang_selatan_fifi.JPG
Candi Gebang merupakan bangunan berdenah dasar persegi dengan ukuran 5.25 m x 5.25 m dengan tinggi 7.75 m memiliki. Bahan dasar yang digunakan untuk pembangunan candi adalah batu andesit. Tubuh candi berdiri di atas kaki setinggi sekitar 2 m. Tidak terdapat pahatan apapun pada bagian kaki candi.
Description: Candi_gebang_barat_Fifi.JPG
Pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi terletak di sisi timur. Di kanan kiri pintu masuk terdapat relung tempat arca. Di relung utara terdapat arca Nandiswara sedangkan relung selatan dalam keadaan kosong. Konon di relung tersebut tadinya terdapat arca Mahakala. Di sisi barat (belakang) terdapat relung yang diisi dengan Arca Ganesha yang duduk di atas sebuah yoni dengan belalai mengarah ke utara.
Tidak ditemukan tangga untuk naik ke selasar di permukaan kaki candi. Walaupun terdapat dugaan, tangga tersebut dibuat dari bahan yang mudah rapuh, seperti kayu, namun belum didapat informasi yang pasti tentang ketiadaan tangga tersebut.
Description: yoni_dlm_candi_Fifi.JPG
Di dalam tubuh candi terdapat ruangan. Di tengah ruangan terdapat sebuah yoni dan lingga, namun saat ini lingga yang tertancap di atas yoni sudah tak ada di tempatnya. Atap candi bersusun dengan puncak berbentuk lingga yang tegak di atas seroja.



Candi barong : Yogyakarta


Description: UTARA_05220136_pyo_1.jpg
Candi barong merupakan candi peninggalan agama Hindu yang terletak di Dusun Candisari, Bokoharjo, Prambanan. Disebut Candi Barong karena terdapat hiasan kala di relung tubuh candi yang tampak seperti Barong. Keberadaan Candi Barong yang juga bernama Candi Sari Suragedug disebutkan dalam Prasasti Ratu Baka (856 M) dalam bahasa Sansekerta dan ditulis menggunakan huruf Jawa kuno. Dalam prasasti tersebut diceritakan tentang seorang raja bernama Sri Kumbaja atau Sri Kalasodbhava yang membangun tiga 'lingga', yaitu Krttiwasalingga dengan pendamping Dewi Sri, Triyarbakalingga dengan pendamping Dewi Suralaksmi, dan Haralingga dengan pendamping Dewi Mahalaksmi. Diperkirakan bangunan yang dimaksud adalah Candi Barong. Dalam Prasasti Pereng (863 M), yang juga ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf Jawa kuno, disebutkan bahwa pada tahun 784 Saka (860 M) Rakai Walaing Pu Kumbhayoni menganugerahkan sawah dan dua bukit di Tamwahurang untuk keperluan pemeliharaan bangunan suci Syiwa bernama Bhadraloka. Para ahli berpendapat bahwa Sri Kumbaja atau Sri Kalasodbhava adalah Pu Kumbhayani dan bangunan Syiwa yang dimaksud adalah Candi Barong.
Description: BARAT_UTARA_05220143_pyo_2a.jpg
Berbeda dengan candi-candi lainnya di Jawa Tengah, Candi Barong merupakan bangunan punden berundak, yaitu model bangunan suci pada masa prahindu. Candi ini terdiri atas teras bersusun tiga, makin ke atas main sempit. Luas teras pertama adalah 90 x 63 m2, sedangkan teras kedua adalah 50 x 50 m2. Dilihat dari letak tangga naik dari teras ke terasnya, candi Hindu ini menghadap ke barat. Di pertengahan sisi barat terdapat tangga naik dari teras pertama ke teras kedua setinggi sekitar 4 m dengan lebar 3 m.
Description: BARAT_05220149_pyo_3.jpgDescription: BARAT_05220150_3a.jpg
Teras ketiga, yang berukuran 25 x 38 m2, terletak 5 m dari permukaan teras kedua, dan dapat dicapai melalui tangga selebar 3,2 m. Tangga tersebut dilengkapi dengan pipi tangga di kiri-kanannya. Di pangkal tangga terdapat hiasan menyerupai 'ukel' yang sudah tidak jelas bentuknya. Di kiri dan kanan dinding pipi tangga terdapat hiasan berupa daun kalpataru yang sebagian sudah rusak. Di puncak tangga terdapat gerbang beratap (gapura paduraksa) menuju ke pelataran teras ketiga. Di atas ambang gapura terdapat hiasan Kalamakara.
Description: BARAT_05220141_4.jpgDescription: BARAT_05220147_4a.jpg
Dinding teras diberi penguat berupa susunan balok batu andesit yang diperhalus dengan lapisan batu putih di permukaannya. Dinding teras candi, dari teras terbawah sampai yang teratas, terlihat polos tanpa hiasan. Mendekati ujung selatan dinding barat teras ketiga terdapat ceruk yang belum jelas fungsinya.
Description: BARAT_05220138_pyo_5.jpgDescription: BARAT_05220142_pyo_5a.jpgDescription: BARAT_UTARA_05220144_5b.jpg
Di pelataran teras teratas, yang dianggap sebagai tempat yang tersuci terdapat dua bangunan berjajar arah utara-selatan, masing-masing mempunyai luas dasar 8 x 8 m2. Bangunan pertama terletak di ujung selatan, sedangkan yang kedua terletak di tengah pelataran, tepat berhadapan dengan tangga. Di ujung utara terdapat reruntuhan bangunan yang belum dipugar.

Kedua bangunan yang ada tidak mempunyai mempunyai pintu masuk ke tubuh candi, karena tidak terdapat ruangan di dalamnya, walaupun, menurut hasil penelitian, diperkirakan terdapat rongga dalam tubuh bangunan. Relung-relung yang ada saat ini dalam keadaan kosong. Arca yang pernah ditempatkan di sana sudah tak bersisa, walaupun konon pada saat pemugarannya ditemukan 3 arca dewi dan 4 arca dewa yang berciri Syiwaistik. Pada keempat sisi masing-masing bangunan hanya terdapat relung tempat menaruh arca. Di atas ambang relung terdapat hiasan kalamakara lengkap dengan rahang bawah yang sangat sederhana pahatannya.

Description: BARAT_05220155_6.jpgDescription: UTARA_05220158_6b.jpgDescription: BARAT_05220154_6c.jpg
Tidak terdapat hiasan relief pada dinding dan kaki bangunan, hanya ada pahatan berpola dedaunan dan sosok manusia yang sederhana. Atap candi bersusun dengan puncak runcing. Pelipit atap berpola bunga dan kumuda.



Candi Banyuniba : Yogyakarta


Description: c_banyuniba_1_lia_1.jpg
Candi Banyuniba terletak di selatan Desa Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Letaknya sekitar 200 m dari Candi Barong, sekitar 1 km sebelah barat daya jalan raya Yogya-Solo. Candi Buddha ini berdiri menghadap ke barat, menyendiri di lahan pertanian. Sekitar 15 m di depan bangunan candi mengalir sebuah sungai kecil. Pada saat ditemukan, candi ini hanya berupa reruntuhan.
Description: c_banyuniba_2_lia_2.jpgDescription: c_banyuniba_3_lia_3.jpg
Penelitian dan rekonstruksi yang pertama di mulai pada tahun 1940. berdasarkan hasil penelitian diperkirakan bahwa Candi Banyuniba terdiri atas satu candi induk yang menghadap ke Barat dan dikelilingi deretan candi perwara berbentuk stupa, 3 berderet di selatan dan 3 lagi di timur. Saat ini baru candi induknya yang berhasil dipugar. Tak satupun candi perwara yang tersisa. Di halaman belakang candi terdapat sebuah lubang seperti sumur.
Description: c_banyuniba_4_lia_4.jpgDescription: c_banyuniba_5_lia_5.jpg
Ukuran Candi Banyuniba relatif kecil, yaitu lebar 11 m dan panjang sekitar 15 m. Tubuh candi berdiri di atas 'batur' setinggi 2,5 m yang terletak di tengah hamparan batu andesit yang tertata rapi. Selisih luas batur dengan tubuh candi membentuk selasar yang cukup lebar untuk dilalui 1 orang. Dinding dan pelipit atas batur dipenuhi dengan hiasan bermotif sulur dan dedaunan yang menjulur keluar dari sebuah wadah mirip tempayan. Di setiap sudut kaki candi terdapat hiasan mirip kepala Kala yang disebut 'jala dwara". Hiasan ini berfungsi sebagai saluran pembuang air hujan. Atap candi berbentuk limasan seperti kubah (dagoba) dengan stupa di puncaknya.
Description: c_banyuniba_6_lia_6.jpgDescription: c_banyuniba_7_lia_7.jpg
Untuk naik ke selasar di permukaan 'batur' (kaki candi) terdapat tangga selebar sekitar 1,2 m, terletak tepat di depan pintu masuk bilik penampil. Pangkal pipi tangga dihiasi dengan kepala sepasang naga dengan mulut menganga lebar.
Description: c_banyuniba_8_lia_8.jpg
Pintu masuk dilengkapi dengan bilik 'penampil' beratap melengkung yang menjorok sekitar 1 m keluar tubuh candi. Sisi depan atap bilik penampil dipenuhi dengan hiasan bermotif sulur-suluran. Tepat di atas ambang pintu, terdapat hiasan Kalamakara tanpa rahang bawah. Di bagian dalam dinding, di atas ambang pintu, terdapat pahatan yang menggambarkan Hariti, dewi pelindung anak-anak, sedang duduk bersila diapit oleh dua ekor burung merak. Di sekeliling wanita itu terdapat anak-anak kecil yang
Description: c_banyuniba_9_lia_9.jpgDescription: c_banyuniba_10_lia_10.jpg
Pada dinding selatan bilik penampil terdapat relief yang menggambarkan Kuwera, dewa kekayaan, sedang duduk duduk dengan tangan kanan tertumpu paha. Di sebelah kirinya, agak ke belakang, seorang pelayan memegangi pundi-pundi berisi uang.
Pada dinding di keempat sisi tubuh candi terdapat jendela palsu, yaitu lubang yang terlihat seperti sebuah jendela, namun sesungguhnya lubang tersebut tidak menembus ke ruang dalam tubuh candi. Di atas ambang jendela palsu terdapat hiasan Kalamakara, sedangkan di kiri dan kanannya terdapat relung yang berisi pahatan sosok penghuni kayangan atau surga, seperti kinara dan kinari, hapsara dan hapsari, serta Hariti dan Avataka. Di antara kalamakara dan pelipit atas ambang jendela tersembunyi pahatan sosok pria yang sedang duduk seolah melongok ke bawah. Hiasan semacam ini disebut 'kudu'.
Description: c_banyuniba_11_lia_11.jpgDescription: c_banyuniba_12_lia_12.JPG
Tidak terdapat arca di ruangan dalam tubuh candi, namun dindingnya dihiasi dengan sosok anak dan lelaki dalam berbagai posisi. Ada pahatan yang menggambarkan seorang anak sedang bergantung pada dahan pohon, sederetan orang yang sedang duduk berpelukan, seorang lelaki duduk bersila, dan sebagainya.
Di halaman candi terdapat sepasang arca lembu dalam posisi duduk. Tidak didapat informasi apakah arca tersebut memang terletak di tempat aslinya atau sudah dipindahkan dari tempatnya semula.



Kumpulan Sajak-sajak Willy Ana